Archive for Oktober, 2010

Erupsi Merapi

Selasa, 26 oktober 2010

Sudda dari beberapa hari yang lalu berita tentang gunung Merapi yang akan meletus disiarkan, namun belum adda reaksi dari diriku pribadi. Baru tadi malam ketika aku mengobrol bersama mba kostku aku merasa ngeri dengan obrolan kami tentang Merapi.

Mba kostku : “yang ditakutkan itu erupsi kali ini yang tiap 100 taun sekali niq”

Uniq : “jadi intinya Merapi akan meletus mba??”

Mba kostku : “iyya lah, orang katanya material material vulkaniknya udda hampir ke bibir gunung og”

Uniq :”huwaaa mba, takut”

Mba kostku : “kita berdoa ajja..”

Setelah obrolan ringan itulah aku baru sadar kalo kota ini berada dalam masalah, <walopun sebenarnya Merapi berada 35km dari tempatku bermukim>. Apalagi tiap melihat TV, melihat berita yang menayangkan masalah Merapi, aku langsung terbayang bayang akan segala sesuatu yang akan terjadi :(.

Jam 17.30 WIB, aku masi adda di kost pacarku. Saat itulah aku diberi kabar olehnya bahwa Merapi telah meletus, ia langsung mengambil remote TV dan mencari breaking news akan meletusnya Merapi. Masyaallah, aku terbelalak. Merapi benar benar memuntahkan material material vulkaniknya :(. Dan yang lebih membuatku pilu, adda bayi berusia 2 bulan yang jadi korban meninggal dunia karena sesak nafas (menghirup debu vulkanik), astaghfirullah, hatiku pilu. Empatiku benar benar memaksaku untuk menangis. Ya Allah, tempatkan ia di surgamu Ya Allah, Amien. Dan untuk ibunya, adda hikmah di balik musibah ibu :).

Singkat cerita setelah itu, aku pulang ke kostku. Segera mandi. Selesai mandi, dengan masih memakai haduk aku melihat hapeku. Adda 4 sms masuk, dan 3 missed call. Saudara saudaraku menanyakan begaimana keadaanku, terharu. Namun gara gara kecemasan mereka aku ikut ikutan heboh. Bayangan letusan Merapi akan sampai ke Kostku merebak. Namun untunglah aku memiliki pacar yang bisa menenangkan aku dalam hal ini.

Sampai saat aku menulis blog ini, aku tetap memantau update-an Erupsi Merapi. Ya Allah, lindungilah kami semua yang berada disini. Jika memang ini semua adalah teguran pada kami yang lalai dalam menjalankan perintahMu, ampuni kami Ya Allah. Surutkan segala bencana dari negeri Indonesia tercinta ini, Amien.

Leave a comment »

UTS

Ujian Tengah Semester, atau yang lebih sering kita sebut sebagai mid test ini benar benar membuatku gilla. Diawali pada tanggal 25 Oktober kemarin, PMP, pengenalan Model Probabilitas. Aku memang merasa tidak yakin 100% kalo aku bisa, namun aku merasa agak percaya diri sewaktu belajar. Aku merasa insyaalllah aku bisa saat ujian nanti, namun nyatanya, 😦 so bad.

Dari 4 buah soal aku hanya bisa mengerjakan 2 soal, itupun entah benar atau tidak, huwaaaa :'(. Semoga bapake memberiku sedikit kewelasan, :D. Ternyata materinya belum semuanya aku mengerti, oh my DPA, kau benar benar membuatku setengah gilla memikirkan mata kuliah yang kau ampu untukku di semester III ini. Apakah teman temanku yang lain juga merasa seperti itu??? Aku berharap mereka menjawab, iyya, 😀

dan kembalai aku dibuat bete karena UTS, aku harus menunda kepulanganku yang rencananya pada saat aku menulis blog ini sudda beada di dalam mobil untuk meninggalkan Jogja tercinta kembali ke Pati. Nyatanya aku masi harus disini sampai besok sore, Amak, anakmu kangan sangad, 😥

Leave a comment »

Males

Baru sempet nulis lagi, huwahuwa. appa yah gunanya blog ini????

Sebenarnya bukan karena males nulis ato appa, lebih karena lagi ga punya waktu untuk mengutak atik leepyku, oh My God, kuliah semester ini benar benar membuatku gilla. Jadwal yang padat dan tugas yang bejibun membuatku mati gaya. woi Pak Bu Dosen, beri aku sedikit celah untuk menikmati semester ini dengan tanpa adanya tugas.

Apalagi 2 hari lagi ada UTS, perasaan masi males untuk belajar selalu menggelayut di dalam diriku, segera enyahlah kaliaaannnn, penyebab kemalasanku, hikz hikz

Leave a comment »

#1

Aku mencintai apa yang ada dalam hidupku, karena Tuhan selalu menciptakan manusia bersama dengan kelemahan dan kelebihan masing-masing yang nantinya akan saling melengkapi dalam kehidupan kita dan akan menjadikan hidup kita indah pada waktunya..

“Gimana rencana study kamu Al???”, Silva, sahabat terbaikku dari SMP.

“Bingung….”, jawabku sambil duduk di depan meja belajarku mencorat-coret kertas di depanku. “Kamu???”.

“Cuma bisa berdoa supaya emakku ga kalap nyuruh aku kawin sama juragan kambing di pasar”, Silva masih sibuk dengan hapenya. “Tau ga Al, masa Nubi ngajakin aku nikah!!! Hahahaha, sarap dia!!!!!”

“Halah, belagak bilang dia sarap, padahal suka kan kamu..”

“Gimana yah Al, tapi akunya belum siap. Apa juga kata emakku tar….”

Aku dan Silva mulai bersahabat sejak kelas 2 SMP, sejak kami sama-sama ikut ekskul voli di sekolah. Kami beda SMA, namun kami masih sering bertemu dan keep contact walau cuma sekedar sms dan telpon. Sejak SMA, ia berpacaran dengan Nubi. Walau sering kali hubungan mereka diwarnai aksi putus-sambung, namun aku salut pada mereka. Dari mereka aku bisa melihat secara nyata bagaimanakah bentuk cinta sejati itu. Cinta yang tetap ada walaupun kadang sering kali benci itu datang.

Kami sedang berada di kamarku, kamar kecil berukuran 3×4 yang selalu menjadi tempat favorit kami berbagi cerita. Di meja belajarku, tersebar beberapa brosur pendaftaran universitas negeri dan swasta. Kami memang sedang terlibat dalam perbincangan tentang study kami selanjutnya.

“Almy!!!!”, ibu memanggilku. Aku datang keluar kamar. “Ada surat dari IAC Jogja”.

Aku membuka amplopnya.

SELAMAT, ALMY NINDIA WARDASARI DITERIMA SEBAGAI MAHASISWI STAF AIRLINES IAC JOGJAKARTA

“Aku ketrima bu’”, jawabku sambil menyerahkan isi amplop itu pada ibuku dan berlalu kembali menuju kamar. Ibu sejenak membaca dan kemudian menyusulku ke kamar.

“Kenapa kamu terlihat tidak senang??”, tanya ibuku kemudian.

“Aku pengen jadi pramugari bu’, bukan sebagai staf airlines. Aku pengen kerja di atas pesawat, bukan cuma sekedar melayani para calon penumpang yang ingin beli tiket di bandara”, jawabku tetap tidak menoleh pada ibuku.

“Tapi kesempatan ini tidak datang untuk kedua kali Almy, coba kamu pikir. Kalo kamu tidak mengambil kesempatan ini lalu mau kuliah dimana kamu?? Selain pada IAC ini kamu belum daftar lagi kan??? Kurang apa lagi, kamu bercita-cita sekolah di Jogja, dan sekarang kesempatan ini ada di depan mata kamu sayang”.

“Tapi Almy pengen jadi pramugari bu’, kalo memang aku ga bisa jadi pramugari maka aku ga bakal jadi staf airlines maupun staf cargo. Aku ga akan lagi punya cita-cita jadi pramugari. Aku ga mau hanya jadi penggembira saja”,aku beranjak menuju tempat tidur, menemani Silva tiduran.

“Kamu akan ikut SNMPTN”, akhirnya ibuku mengalah menuruti keinginanku untuk tidak mengambil kesempatan jadi mahasiswi staf airlines IAC Jogjakarta.

Dari kecil aku memang selalu bermimpi menjadi seorang pramugari, yang bisa pergi kemana-mana naik pesawat, keliling Indonesia bahkan dunia, selalu berpenampilan modis dan feminim. Adalah suatu kesenangan dan kebanggaan tersendiri bagi diri sendiri. Namun karena tinggiku yang memamng Cuma 157 cm ini tidak mencukupi menjadi pramugari yang harus memiliki tinggi minimal 160 cm.

Aku sangat berharap bisa kuliah di Jogjakarta, kota gudeg yang selalu memiliki magnet penarik tersendiri bagiku, namun dengan tidak diterimanya aku menjadi pramugari di IAC Jogjakarta maka aku harus berusaha lagi dari awal. Berusaha lagi mencari universitas untuk kelanjutan studyku.

########

@mrandra liburr tlah tibaaaa……’

Status twitter Andra, mantanku sewaktu SMA. Pria kecil yang berpacaran denganku hanya selama 8 hari, mungkin bisa dibilang aku berpacaran dengan seorang brondong. Karena ia masih kelas 1 SMA. Kami bertemu pada 1 ekskul, yang membuat kami sering bertemu dan sering flirting-flirting. Kenapa hubungan kami hanya bertahan selama 8 hari, hanya Andra yang bisa menjawabnya.

Selama kami putus hingga sekarang kami tidak pernah kembali saling bertukar kontak, mungkin aku juga yang masih belum bisa terima kenapa kami hanya bisa menikmati masa yang belum terlalu indah sebagai sepasang kekasih. Pacaran terkilatku yang hanya 8 hari.

@yammay ribett ngadepin mak mak’

Aku baru saja melihat status twitter Yama, juga mantanku, mantan sewaktu SMP. Cinta monyet yang selalu membuatku kadang-kadang rindu dengan masa-masa itu. Sedikit lebih baik dari pacaran dengan Andra, kami berpacaran selama 3 bulan. Alasan putus karena berbeda SMA, dan Yama adalah satu-satunya pria yang sulit untuk mengungkapkan perasaannya.

“Almy, ada yang mau bertemu”, tiba-tiba ibu masuk kamar.

“Siapa bu’???”, tanyaku keheranan. Ibuku hanya berlalu, aku mengikutinya dari belakang. Di ruang tamu telah menunggu seorang pria yang perkiraanku berumur 50an. Menggunakan baju berkrah lengan pendek berwarna biru muda. Celana kain berwarna gelap dan sepatu phantofel. “Ini siapa bu’????”.

Pria itu berdiri dan mengulurkan tangannya. “Saya Taufan, teman dekat ibu kamu”.

Aku menjabat tangannya sambil mengernyitkan dahi menatap ibuku. “Almy, Almy Nindia Wardasari”. Aku menatapnya kemudian. Kami bertiga duduk. Aku masih bingung kenapa aku dikenalkan padanya, terlalu banyak pertanyaan dalam kebingungan hingga aku tak sadar teman ibuku itu bertanya padaku.

“Almy!!!”, bentak ibuku.

Aku tersentak dan kembali pada alam sadarku. “Maaf, ada apa yah???”

Pria bernama Taufan itu tertawa lebar. “Kamu pasti bingung kan kenapa ibumu membawa kamu kesini dan mengenalkan saya???”. Aku mengangguk, ia meneruskan bicara. “Kami ingin memberitahu bahwa kami berencana untuk menikah”.

‘MENIKAAAHHHHHH????????????’

Aku merasa seluruh badanku lemas, tidak pernah terpikir olehku akan hal itu. Ibuku memang seorang janda. Ayah meninggal ketika aku masih duduk di kelas 6 SD karena kanker lidah. Selama ini ibu membesarkanku, menyekolahkan aku hingga SMA seorang diri. Ibu mampu melakukan itu karena beliau telah berjanji pada Ayah untuk menyekolahkan aku hingga kuliah. Namun aku tidak pernah berpikir bahwa ibuku akan menikah lagi.

“Bolehkah aku ke kamar mandi sebentar??”, pamitku. Tanpa menghiraukan jawaban mereka aku segera berlalu ke kamar mandi untuk cuci muka. Berkali-kali aku membasuhkan air ke mukaku, berharap aku bermimpi dan semua ini bukan terjadi dalam kehidupan nyata. “Ya ampun Tuhan, apa maksud semua ini??”

Aku kembali menemui mereka. “Apa yang bisa saya bantu untuk anda??”, tanyaku pada Pak Taufan.

“Sebelumnya saya minta maaf karena pasti telah membuat kamu kaget, namun Almy, saya dan ibumu sudah sama-sama tua. Sudah bukan waktunya lagi merasakan apa itu pacaran seperti remaja selayaknya kamu. Saya sangat mencintai ibumu, ingin menghabiskan sisa-sisa hidup ini bersama-sama ibumu. Perlu digaris-bawahi disini bahwa status saya adalah seorang duda, saya memiliki 2 anak. Saya disini berniat untuk meminta izin dari kamu untuk pernikahan kami”.

“Boleh tidak aku jawab sekarang????”, tanyaku. Mereka mengangguk. “Maaf, saya masih harus belajar untuk persiapan SNMPTN minggu depan”. Aku berlalu meninggalkan mereka menuju kamarku. Aku langsung merebahkan tubuhku di kasur dan menutup mukaku dengan bantal. Tak terasa aku pun tertidur hingga pagi.

########

Aku terbangun dari tidurku, 5 missed call, dari Silva. Aku memilih mengiriminya sms.

‘knapa Sil?? Q ktidurn’

‘kga, smalem emakmu sms Q suru  ke t4mu tar. Nape kao???’

‘ga nape2.. cptan ke t4Q!!!!’

Setelah membalas sms Siilva aku mandi. Rupanya ibu tidak ada di rumah, aku menemukan sebuah memo yang ditempel pada pintu kulkas.

‘ibu ada urusan, sarapan sudah ada di atas meja. Di atas meja belajarmu ada uang, bisa kamu pakai jalan-jalan bersama Silva nanti. Ibu’

Selesai mandi aku kembali ke kamar, ternyata Silva sudah ada di kamarku.

“Heh kapan kamu dateng?? Lewat mana???”, tanyaku terheran-heran melihat Silva sudah ada di atas tempat tidurku.

“Aku dari tadi tu uda ada di rumah kamu, pagi-pagi banget dateng. Terus kata tante disuruh jangan ganggu kamu tidur, ya sutra aku nunggu kamu bangun di kamar tamu.”

“Ibu pergi kemana??”, tanyaku sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

“Tadi sih dijemput mobil, katanya mo ada urusan”, jawab Silva beranjak dari tempat tidur dan mendekatiku. “Ibumu mo nikah lagi yah???”

Aku menghentikan aktivitasku dan menghela nafas. Aku mengangguk dan kembali meneruskan mengeringkan rambut.

“Jadi itu kenapa aku disuruh kesini, untuk menemani kamu yang masih syok dengan kabar itu. Ya ya ya ya ya…”, Silva kembali merebahkan diri di tempat tidur. “Orangnya kaya gimana Al??”

No comment!!!!!  Bisa ga si untuk hari ini ga usah ngomongin hal itu???”

“Baeklah kalo itu maumu. Kita jalan-jalan yuk Al, aku pengen shopping. Kita seneng-seneng ajja tar”, ajak Silva.

“Aku ganti baju dulu”.

Satu jam kemudian kami sudah ada di sebuah plaza, melihat-lihat baju. Silva sedang memilih-milih jaket, sedangkan aku sibuk melihat-lihat dress. Ketika aku menemukan sebuah dress yang bagus tidak sengaja aku melihat Yama berjalan bersama dengan seorang gadis berambut lurus kira-kira 10 cm di bawah bahu, berkulit putih, dan bergandengan tangan. Aku hanya bisa melihatnya tanpa berani memanggil dan menyapanya. Tiba-tiba Silva menepuk bahuku dari belakang, aku terperanjat.

“Ngeliatin siapa sih????”, tanya Silva sambil clingukan.

“Ngga, ngga apa-apa kok”, kataku sambil berlalu menuju kamar pas. Di dalam kamar pas aku tidak lantas langsung mencoba dress yang sedari tadi terkulai di tanganku. Aku masih memikirkan Yama bersama gadis berambut lurus itu. Aku merasa tidak tenang dan merasa ada sesuatu yang sesag di dadaku.

Setelah mencoba dress itu, aku keluar dan menemui Silva. Kami lantas menuju kasir untuk membayar dan memilih untuk langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, aku masih terlamun memikirkan apa yang ku lihat di plaza tadi. Sampai akhirnya Silva berkata,

“Aku liat Yama tadi, sewaktu kamu di kamar pas. Dia bersama pacar barunya, menurutku si. Sedang mencari blazer untuk pacarnya itu”, kata Silva memecah lamunanku.

“Oh ya??? Kamu kenalan sama cewenya???”

“Ngga, dia sibuk milih-milih blazer. Aku cuma bicara sama Yama, dia udda ketrima di Jogja. Akhir bulan nanti berangkat ke Jogja. Jadi Al, kalo tar kamu jadi di Jogja punya temen”

“Ooo”, jawabku enteng.

“Dia tadi juga nanyain kamu, bilangnya sekarang kamu itu sombong. Nah pas aku bilang untuk nunggu kamu bentar buat ketemu, cewenya ngajakin pindah. Dia cuma nitip salam buat kamu, dan dia berdoa supaya kamu bisa di Jogja”

“Hee”, aku hanya bisa menanggapi cerita Silva dengan senyum. Senyuman konyol yang membuat silva curiga padaku.

“Jangan-jangan kamu tadi udda lebih dulu liat mereka???”, selidik Silva.

“Iyya”, jawabku.

########

@niwaalmy strezz berkepanjangan’

Aku memilih untuk menyibukkan diri malam ini dengan surfing di dunia maya, dengan modal laptop yang aku beli saat kelas XII SMA dari hasil menabung dan uang beasiswa serta sebuah modem pemberian anak-anak 1 kelas sebagai hadiah ulang tahunku.

@yammay sombong RT @niwaalmy strezz berkepanjangan’

Ternyata Yama meretweet twitku, kamipun saling retweet.

@niwaalmy maap @yammay bukan maksud untuk sombong’

@yammay so????? RT @niwaalmy maap @yammay bukan maksud untuk sombong’

‘@niwaalmy aku sbuk siapin SNMPTN rabu kamis depan, maap @yammay’

‘@yammay brapa nomu??? @niwaalmy’

‘@niwaalmy tar aku message ke twittermu.. @yammay’

‘@yammay ok’

‘@niwaalmy aku blajar dlu…. RT @yammay ok’

‘@yammay tar abis ngirim nomu!! RT @niwaalmy aku blajar dlu…. Rt @yammay ok’

‘@niwaalmy @yammay iyyaaaa’

Aku mengirim message ke twitter Yama, nomor hapeku. Beberapa saat setelah message terkirim tiba-tiba hapeku berdering. Nomor asing, aku mengangkatnya.

“Hallo”, kataku.

“Ini aku, Yama”, jawab suara di seberang sana. Jantungku lantas berdegup sangat kencang, hingga aku merasa suaranya terdengar sampai Yama.

“Oh iyya Yama, adda appa???”

“Cuma ingin tau kabar kamu, tadi siang aku ketemu Silva. Tapi pas kamu lagi ada di kamar pas. Karena aku buru-buru jadi ga sempet nunggu kamu keluar. Kata Silva juga kamu pengen kuliah di Jogja yah???”

“Oh iyya, doakan sajja Yama. Rabu-kamis depan aku SNMPTN. Insyaallah kalo aku ketrima, aku kuliah di Jogja. Aku denger dari Silva kamu udda ketrima di Jogja, selamat yah. Aku tunggu makan-makannya, heee”

“Makasih, aku janji bakal traktir kamu kalo kamu bisa kuliah juga di Jogja. Aku janji”

“Iyya. Hem Yama, aku belajar dulu yah. Maap ga bisa nemenin lama. Lain kali aku pasti hubungin kamu”

“Oke, good luck. Aku tunggu di Jogja”

Kami mengakhiri obrolan via telpon, aku mengambil beberapa buku dan mencoba mengerjakan beberapa soal. Ajaib. Rasanya tangan dan pikiranku sedang on fire, beberapa soal selesai aku kerjakan dengan hasil sempurna. Aku merasa semangat, merasa senang. Entah kenapa, walau sebenarnya aku tau, semua itu karena Yama. Yama membuatku bersemangat.

”Almy”, ibu mengetuk pintu kamarku.

“Masuk bu’, pintunya ga ku kunci”, aku menjawab sambil masih mengerjakan soal. Ibu masuk dan duduk di tempat tidurku sambil memperhatikan aku mengerjakan soal.

“Kamu lagi sibuk yah??”, tanya ibuku basa-basi.

“Ibu mau ngomong apa, aku masih bisa dengerin ko. Itupun kalo ibu  ga keberatan”, aku tak bergeming dari pekerjaanku.

“Gimana jalan-jalanmu tadi??”, ibu mencoba mengawali.

“Almy beli dress buat SNMPTN rabu tar, Silva dapet jaket kulit. Lumayan seru bu’, gimana sama ibu’??”

“Ibu ke toko perhiasan, memilih cincin. Kata Pak Taufan weekend setelah kamu SNMPTN kita akan pergi berlibur”

“Mau kemana bu’??”

“Ibu juga ga tau, kamu…”, ibu tidak meneruskan perkataannya. Aku beranjak menuju tempat tidur, duduk di samping Ibu.

“Almy pikir Ibu berhak untuk bahagia, Ibu berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seorang lelaki. Kalo memang Pak Taufan itu menurut Ibu bisa membuat Ibu bahagia, rasanya Almypun tidak memiliki hak untuk melarang Ibu menikah. Maap kalo kemarin Almy bersikap seolah-olah Almy ga suka sama Pak Taufan, itu lebih karena Almy syok, kaget, dan ga nyangka Ibu memiliki rencana untuk menikah. Sekarang Ibu tidak perlu lagi khawatir Almy ga akan ngasi restu, apapun yang bisa bikin Ibu bahagia, Almy akan menyetujuinya”

“Benar Almy??? Kamu ga akan nyesel dengan keputusan kamu ini kan???”

“Insyaallah bu’”, Ibu memelukku. Beliau tidak henti-hentinya berucap terima kasih untukku. Aku bisa merasakan betapa bahagia dan senangnya ibuku saat ini. “Ya udah bu’, Ibu istirahat gih. Almy masih harus belajar”

Ibu berlalu, ketika di depan pintu beliau menoleh tersenyum dan berucap terima kasih.

Keputusan itu memang telah aku pikirkan sebaik-baiknya. Aku tidak ingin membuat ibuku sedih dengan tidak memberikan restu itu, lagipula aku ingat apa yang dikatakan Ayahku saat aku masih kecil.

‘Jangan pernah sekali-kali membuat ibumu bersedih hingga menangis, karena kesedihan dan air mata ibumu harus kau bayar dengan penderitaan berkepanjangan dalam hidupmu’

“Makasih Ayah, kata-katamu itu selamanya tidak akan pernah aku lupakan”

########

Comments (1) »