Archive for Mei, 2012

#2

Kebahagian hakiki adalah rasa bangga ketika kita dapat melihat orang yang kita sayangi tersenyum bahagia karena kita, aku mencintaimu Ibu, lebih dari apa yang bisa aku berikan padamu..

 

Ujian SNMPTN pun tiba, pagi-pagi sekali aku berangkat menuju tempat ujian. Sudah ramai, banyak diantara mereka yang masih sibuk dengan beberapa buku dan laptop mereka. Tidak sedikit juga yang memilih berdoa atau sekedar berbincang-bincang untuk mengatasi rasa tegang mereka dalam menghadapi ujian SNMPTN hari pertama ini.

Aku memilih untuk berdoa, kemudian menggerak-gerakkan anggota badanku untuk melemaskan urat syarafku yang tegang. Kami semua masuk, setelah diperiksa berbagai kelengkapan kami dipersilakan untuk mengerjakan soal. 2 jam telah berlalu, kami selesai mengerjakan ujian hari pertama, aku memilih langsung keluar ruang ujian untuk segera pulang.

Di tengah perjalan pulangku, aku mendengar suara yang tidak asing bagiku memanggil-manggil namaku, aku berbalik. Ternyata Silva berlari ke arahku.

“Almy, kebangetan banget si. Udda dipanggil dari gerbang lokasi ujian kamu ga denger”, Silva terengah-engah, sambil membungkukkan badannya karena kelelahan mengejarku.

Aku hanya tertawa ngakak melihat peringai Silva yang kelelahan, dia memukul bahuku.

“Auw, sakit tau!!”, aku berteriak sembari memegangi bahuku yang dipukul Silva dengan cukup keras.

“Sukurin, itu balasan buat orang yang budeg plus ngetawain aku”

“Ngapain kamu kesini Sil??”

“Aku khusus menjemput si calon mahasiswa Jogja lah”

“Aish, belum juga tentu bisa kuliah di Jogja, udda dibilang-bilangin kaya gitu. Pamali tau”

“Ah kau ini Al, hehe, sebenernya aku ngabur dari emakku. Abis aku bete, di rumah Cuma disuruh beres-beres rumah mulu, udda kaya pembatu tau ga si Al”

“Silva Silva, udda berapa taun kamu hidup bareng emakmu?? Itu namanya ngabdi, bukannya jadi pembantu. Kamu pikir di rumah Cuma bisa nongkrong, tiduran, makan, nonton TV seenaknya dengan usiamu ini??”, aku sedikit menasehati Silva. “Harusnya kamu itu mikir nyari kerja, biar ga cuma di rumah buat beres-beres rumah yang kamu bilang pembantu itu”

“Omong-omong tentang kerja, di butik deket SMA kamu itu lagi buka lowongan Al, anterin aku plissss”

“Abis aku ujian SNMPTN terakhir besok yah??”

“OK cincah, kamu memang is the best”, ucap Silva sambil mencubit hidungku.

“Auw, sakit!!”

“Oiya Al, gimana tentang pernikahan ibumu??”, tanya Silva.

“Aku mutusin buat ngasih restu Sil, aku ga mau bikin ibuku sedih. Kalo emang Pak Taufan bisa bikin ibuku bahagia, aku rela. 1000 kali rela bahkan. Aku udda janji sama ayahku buat bikin ibuku bahagia dan ga bakal bikin ibuku nangis lagi”

Silva menghampiriku dan memelukku dengan erat.

“Kamu bijak banged Al, aku yakin ayah kamu disana bangga liat kamu bisa bijaksana kaya gini. Kalo aku mungkin ga akan pernah bisa ikhlas ngebiarin ibuku nikah lagi”

Suasana hening dan mendayu untuk sesaat, aku melepas pelukan Silva setelah sadar beberapa orang memperhatikan kami. Kami berjalan pulang ke rumahku sambil sesekali bercanda. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk mengistirahatkan pikiranku untuk sesaat. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi, ada SMS.

‘gimana ujian pertamanya?’

Aku semangat untuk segera membalasnya.

‘udda berusaha, tinggal nunggu hasilnya J’

‘hasilnya harus bagus!’

‘iyya, doain aku ya Yama J’

‘ingat, janjiku biar kamu semangat belajar :D’

‘hehehe, iyya J’

Lama tidak ada balasan, aku berpikir mungkin Yama bingung mau membalas apa. Sesaat aku merasa bahagia setelah menerima SMS darinya. Namun ketika aku teringat saat bertemu dengannya bersama seorang perempuan lain membuatku merasa tidak nyaman. Tanpa sadar aku tertidur.

 

 

########

 

########

 

“Almy”, ibu mengetuk pintu kamarku.

“Iyya bu’, masuk aja”

Ibu masuk membawa beberapa kue pukis dan segelas susu.

“Ada kue pukis yang dikirim Sarah, anak sulungnya Pak Taufan. Umurnya 2 tahun lebih tua dari kamu. Dia juga kuliah di salah satu universitas swasta di Jogja. Nanti kalo kita jadi pergi bersama akhir minggu ini kalian akan ketemu”

Aku masih sibuk memakan kue pukis sambil mendengarkan ibu berbicara.

“Kamu bisa kan?”, tanya ibu sambil memegang bahuku.

“Iyya bu’, aku pasti akan meluangkan waktu untuk bertemu mereka”, aku tersenyum.

“Ya udah, terusin lagi belajarnya. Jangan lupa susunya diminum selagi hangat, ibu mau tidur dulu”, ibu berlalu.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah berada di tempat ujian. Selesai mengerjakan ujian aku segera mengirim sms pada Silva untuk menanyakan keberadaannya. Ternyata dia sedang menunggu wawancara di butik dekat SMAku. Aku memutuskan untuk segera pulang.

Sepanjang perjalanan, aku memikirkan rencana liburan yang diadakan Pak Taufan. Aku bimbang, apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku harus bersikap di depan keluarga Pak Taufan, bagaimana kalau aku merasa kikuk dan aneh dengan suasana yang ada. Aku tersentak, tersungkur di pinggir jalan setelah ditabrak sepeda motor. Semuanya kabur, akupun tak sadarkan diri.

Aku membuka mata, terasa asing pemandangan di sekitarku. Ternyata aku sudah berada di rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada di rumah sakit ini. Dan kini aku merasa kaki kananku nyeri, sakit yang teramat sangat, dan terasa kaku hingga tidak bisa digerakkan. Ruangan ini kosong, sehingga aku tidak bisa bertanya kenapa kakiku tidak bisa digerakkan.

Beberapa saat kemudian, ada seorang pria masuk ke ruanganku.

“Maaf, anda siapa?”, aku penasaran, aku merasa tidak mengenalnya. Dia masih muda, aku pikir masih seumuran denganku. Dan lebih tidak mungkin kalo dia adalah seorang dokter.

“Aku Oji”, ia mengulurkan tangannya, “aku orang yang menabrak kamu tadi siang”.

Aku membalas uluran tangannya dan menjabatnya. Aku merasa tidak asing dengan wajahnya, aku merasa sudah pernah bertemu dengannya. Namun aku mengurungkan niatku untuk bertanya apakah kami pernah bertemu sebelumnya atau tidak. Aku memilih untuk bertanya apa penyebab aku bisa ditabrak olehnya.

“Sewaktu di persimpangan jalan, tiba-tiba kamu menyebrang. Aku ngga bisa ngontrol kendali motorku, dan menabrakmu. Aku minta maaf karena udah bikin kamu terluka”

Pasti karena aku sibuk memikirkan rencana liburan itu hingga aku tidak sadar menyebrang jalan.

“Itu bukan salah kamu kok, aku yang ngga konsen hingga menyebrang tanpa liat jalanan. Oiya, apakah ibuku udda tau kalo aku disini?”

“Setelah menabrakmu aku segera menghubungi ibumu, maaf juga karena aku membuka hapemu”, Oji menyerahkan handphoneku, “Ibumu tadi disini, sekarang beliau pulang untuk mengambil beberapa pakaianmu. Kakimu pasti sakit”

“Aku ngga bisa menggerakkannya. Kamu tau kenapa dengan kakiku ini?”

“Kata dokter tulangnya patah, beberapa waktu kedepan kamu harus bergantung pada tongkat. Tapi jangan khawatir, aku pasti bertanggung jawab kok untuk semua biayanya”

“Bukan itu, bukan masalah pertanggungjawabanmu, aku hanya ingin tau kenapa kakiku gabisa digerakin”, mendadak aku tersipu malu.

“Aku mungkin akan sering kesini untuk tau keadaanmu”, seolah-olah Oji ingin meminta ijinku.

“Kamu ga perlu sungkan seperti itu Ji, kamu ga harus kesini tiap saat kok”

“Tapi itulah bentuk pertanggungjawabanku padamu”

“ALMY..”, tiba-tiba Silva masuk, “OJI???”

“Silva??”, mereka berdua terkaget satu sama lain.

“Ngapain lo kesini Sil?”,Oji menghampiri Silva.

“Elo sendiri? Jangan-jangan elo yang nabrak Almy?”, Silva melotot ke arah Oji.

“Kalian saling kenal?”, tanyaku. Mereka serentak menolehkan wajahnya ke arahku.

“Elo ga inget Al? Ini Oji, kakak kelas kita SMP”, Silva berseri-seri sambil menunjuk ke arah Oji.

“Bentar deh, ini Almy sahabat lo dari SMP itu?”, Oji menimpali, kembali memperhatikan Silva.

“Iyya”

Aku sekarang ingat. Oji Nirwana, kakak kelas yang sempat menjadi gebetan Silva saat SMP. Aku tidak menyangka sampai saat ini mereka masih saling berhubungan. Namun kenyataannya mereka memang tidak pernah berpacaran.

“Jadi elo Almy, sumpah elo beda banged Al dari waktu kita SMP dulu”, Oji menghampiriku, ia menatap wajahku dalam, “elo tambah cantik dan manis Al”

Aku tersenyum, “Pantas aku merasa tidak asing dengan wajah lo, ternyata kita emang uudda saling kenal dari dulu”

“Jangan mau kemakan rayuan gombalnya Al, udda banyak korban yang sakit ati sama die”, Silva ikut-ikut menghampiriku.

Kami bertiga bernostalgia saat masih SMP dulu.

 

Iklan

Comments (1) »